December 10, 2018

Tentang Isu Body Shaming


Belum lama ini aku mengalami body shaming. Tepatnya ketika mengurus paspor, ketika akan memasukkan sidik jari menggunakan alat biometrik. Laki-laki yang ada di loket tersebut berkata,
"Habis hujan-hujanan ya?"

Kebetulan saat menuju ke kantor imigrasi itu aku memang sempat kehujanan. Dengan polosnya aku jawab,
"Hehe, iya, Mas"

Aku kira pertanyaan tersebut disampaikan karena mungkin bajuku agak basah (tapi ngga kuyup kok, hanya beberapa tetesan aja). Lalu laki-laki itu melanjutkan perkataannya,
"Ooh, habisnya tangannya keriput banget, kayak habis hujan-hujanan, hahaha"



Petugas wanita di sampingnya tampak tidak enak kepadaku karena perkataan temannya itu, langsung menyambung,
"Huss... Mungkin mbaknya sering nyuci. Ya mba ya?"

Aku cuma ketawa tipis formalitas.

Tanganku memang keriput sih. Udah keriput, kasar pula. Percaya deh. Aku sendiri bingung kenapa gini. Yang aku tahu, sejak aku bisa menilai kulitku kasar atau halus, kulitku sudah kasar. Dan pernyataan semacam ini bukan sekali-dua kali aku terima. Sering sist, sampai kebal. Hahaha. Bukannya sombong atau kepedean, tapi kalau orang pertama kali lihat aku, pasti nyangkanya kulitku yaa seperti cewek kebanyakan, kayak bintang iklan hand & body lotion lah :)) Mianhae.


Tentang Body Shaming


Isu yang cukup santer diangkat akhir-akhir ini di jagad dunia maya adalah "body shaming" (well, setidaknya di dunia maya gue sih, hehe). Buat kalian yang barangkali kurang familiar dengan istilah ini, "body shaming" adalah
"the act or practice of humiliating a person based on their body type by making critical and/or mocking statements about their body shape and size." (bullyingstatistics.org)

Atau dalam Bahasa Indonesia berarti
"tindakan atau praktik mempermalukan seseorang berdasarkan tipe tubuh mereka dengan memberikan kritik dan/atau kalimat ejekan tentang bentuk dan ukuran tubuh mereka."

Singkatnya, "body shaming" adalah mengejek bentuk/ukuran tubuh seseorang dengan tujuan mempermalukan.

Bisa jadi kalimatku setelah ini jadi sebuah "unpopular opinion". Tapi, menurutku, yang perlu digarisbawahi dari "body shaming" adalah tujuan-nya. IntentionWhat's the intention of one's statement. Bisa jadi, ketika seseorang mengomentari penampilanmu setelah lama tidak bertemu, "kamu kok kurusan banget?", intensi dari orang itu adalah murni karena khawatir terhadap kita, karena kita terlihat tidak sesegar biasanya. Tidak ada maksud untuk mengejek atau bahkan mempermalukan. Beda cerita apabila kalimat, "kamu kok kurusan banget?" diucapkan untuk menjatuhkan mental kita, atau mempermalukan kita.

Dan intensi ini seharusnya bisa kita identifikasi sendiri.

Kembali ke cerita di awal, aku tidak bisa menebak apa intensi laki-laki petugas loket itu bertanya demikian. Yang aku tahu, ada sedikit rasa...malu? Karena teman di sampingnya bisa mendengar 'candaan'nya itu. Temannya pun sampai 'membela'ku.

Mungkin ada yang belum memahami bahwa tidak semua hal harus kita komentari, apalagi untuk hal-hal yang bukan di luar kuasa siapa-siapa. Seperti warna kulit, bentuk wajah, dan ukuran tubuh. Aku pernah mendengar satu kalimat yang oke banget, yang harusnya semua orang imani,
“You shouldn’t point out things about people’s appearances if they can’t fix them in 10 seconds.”--Seseorang di Tumblr
10 seconds rule. Kalau kejanggalan seseorang bisa dia perbaiki dalam waktu 10 detik, silakan sampaikan. Misal,
"eh, ritsleting celanamu belum tertutup" atau,
"eh, itu apa yang menempel di rambutmu?" atau,
"eh, tumben belum pulang jam segini?"

Buat apa mengomentari penampilan fisik seseorang? Jika penampilan itu ternyata mengganggumu, kenapa tidak simpan aja dalam hati aja? Ngga sulit kok menahan mulutmu sendiri. Cukup dengan membayangkan dirimu di posisinya. Itu aja. Pasti ngga enak rasanya.


Lebih Jauh Lagi


Don't stress yourself. Kalau ternyata memang banyak body shaming yang kamu terima, please, don't stress yourself. Karena kita tidak akan pernah bisa mengontrol perilaku orang lain, kecuali ternyata kamu seorang pengendali air dan darah seperti Katara di kartun Avatar Aang. Kamu bisa mengendalikan orang. Tapi kan kita bukan Katara. Aku rasa, beberapa orang memang ditakdirkan untuk menguji sekaligus menambah kadar kesabaran diri kita.

Aku pernah menulis ini di profil Line-ku,
"​​I don't have any control towards how others will treat me but I do have fully consciousness to control over my attitude towards any action involving myself.
And for now, I choose to be strong and stunning.
"
Kita bisa mengendalikan reaksi kita terhadap perilaku orang lain terhadap kita. Biarkan semua kalimat body shaming itu jadi sebatas angin lalu.
Gemuk? Sejahtera. Jerawatan? Hormon. Tangan kasar? Dari sananya.

Sakit hati karena omongan orang cuma menambah kerutan di kening kita, menghabiskan energi kita dengan sia-sia. Mungkin sebagian dari kita ngga semudah itu untuk ngga sakit hati, ya. Tapi ingat terus, omongan orang itu ngga membuatnya jadi lebih baik dari kita, sama sekali.

Kalau mengutip lirik lagu Jin 'BTS' - Epiphany,
"I’m the one I should love in this world
The shining me, the precious soul of mine"

Btw, bahkan 66.6% cowok yang pernah cukup dekat sama gue pernah bilang kalo their favorite physical feature of mine was my hands. Jadi, yang orang lain anggap sebagai "flaws" itu sebenernya daya pikat tersendiri. Hahahahapasih Cha.


---


Jangan alergi sama body shaming, cukup dengan jangan pernah melakukan body shaming ke orang lain. Sekali lagi, biarkan semua kalimat body shaming itu jadi sebatas angin lalu. Cintai dirimu sendiri dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Cintai juga ciptaan Tuhan lainnya dengan segala keunikannya.

Tuhan itu ngga pernah bikin kesalahan. Kalaupun Tuhan bikin salah, salah satu kesalahannya mungkin dengan menciptakan orang-orang brainless pelaku body shaming itu. Bukan kamu.

No comments:

Post a Comment