April 6, 2018

Bahagia Seharusnya Gratis



Berkantor di bilangan Thamrin, Jakarta Pusat, membuatku sesekali 'mampir' ke dua mall tersohor di Jakarta: Grand Indonesia & Plaza Indonesia. 'Mampir' ke lorong-lorongnya untuk sekadar cuci mata atau kalau kantong lagi sehat yaa...beli satu atau dua barang. Oh dan tentunya sesekali makan siang di sana. Di kantin karyawannya tentu saja.

Saat berjalan masuk ke Plaza Indonesia lah aku melihat inspirasi dari tulisan ini. Aku bersama beberapa teman kantor sedang berjalan di depan lobby selatan untuk kemudian menuju Kantin Subsidi PI di lantai basement. Beberapa dari kalian mungkin familiar dengan pemandangan jajaran mobil mewah yang terparkir indah tak jauh dari bibir lobby. Di situ letak tempat parkir VIP yang dengar-dengar tarifnya mencapai Rp200.000 p e r j a m. Lalu di lobby selalu ada mobil mewah yang datang dan pergi untuk menurunkan penumpangnya. Selalu mewah. Percayalah.




Saat aku berjalan naik ke tangga lobby, ada mobil Toyo*a Alph*rd yang sedang menurunkan penumpang. Mobil itu berhenti lebih lama dari mobil-mobil lainnya karena sang sopir harus turun dari kendaraan. Dibantu satpam lobby, keduanya menurunkan sang penumpang yang ternyata seorang ibu di atas kursi roda.

Ibu itu tidak muda lagi, tapi tidak cukup tua untuk jadi saksi penjajahan Jepang dulu. Aku taksir usianya 50an--seusia ibuku. Di atas kursi roda, sang ibu hanya menatap kosong ke depan tanpa gurat emosi apapun di sana. Terlihat sehat? Totally no. Melihat ibu itu membuatku ingat masa-masa perjuangan mengerjakan tugas akhir kuliahku tahun lalu: lelah dan tertekan.

Tentu aku tidak bisa membaca isi pikiran sang ibu. Tapi satu yang ada di pikiranku adalah bahwa the only thing I want for my mom is not million dollar or a super jetzet life. All I want for her is a healthy mind & body, and happy soul. That's all. And apparently, I think my mom has all of them; I am grateful.

Aku tidak tahu hidup seperti apa yang sebetulnya dijalani oleh ibu tadi. Tapi kalau dari yang terlihat, ibu itu bukan seorang yang hidup di tengah kekurangan. Mobil mewah lengkap dengan sopir yang patuh, pakaian lengkap yang aku yakin bukan merek sembarangan... Tapi dia tidak (terlihat) bahagia.

Satu yang paling aku syukuri adalah bahwa mamaku tidak punya mobil mewah, apalagi sopir, tetapi mamah masih punya tenaga untuk kesana-kemari menyetir mobil sendiri. Mamah masih sering iseng mengirim foto sarapannya yang serba sederhana namun memuaskan.

...

Bukan harta yang akan mendefinisi kita. Bukan pula harta yang jadi sumber bahagia.
Ada banyak hal lainnya dan pasti semua orang punya.
Semua orang bisa bahagia.

boomsumo.com
Picture source: Pinterest

2 comments: