August 14, 2017

Jogjaku Bertahan di Perantauan

Jogja itu indah. Semua orang ingin berada di sana, dan terlalu indah sampai bisa membuat kita terjebak di dalamnya. Dari seluk beluk perkotaan hingga sisi terdalamnya memiliki cerita yang selalu berhasil membuat hati kita ingat akan kemanusiaan. 

Tulisan mengenai indahnya Jogja tidak pernah memuaskan. Bagi kalian yang belum pernah ke Jogja, dengan sepenuh hati aku merekomendasikan untuk berkunjung saja untuk tahu pastinya. Satu-dua hari tidak pernah cukup untuk memuaskan batinmu, tapi setengah hari saja sudah lebih cukup untuk tahu alasan Jogja menjadi kota yang dicintai banyak orang.


Banyak orang bilang berkata bahwa untuk maju, kita harus keluar dari zona nyaman. Berangkat ke Jakarta adalah langkah pertamaku. Aku harus jujur bahwa rasa bahagia saat mendengar pengumuman penerimaan kuliah waktu itu tak tergambarkan. Meskipun demikian, ada rasa takut bahwa aku harus tinggal jauh dari keluarga dan teman-teman yang ku sayangi. Tapi aku sadar, rasa takut itu adalah musuh yang harus aku kalahkan untuk bisa berhasil keluar dari zona nyaman ini.



Sejak pertama kali aku memulai kehidupan kuliah di Universitas Indonesia, aku langsung bertemu berbagai orang baru dari berbagai latar belakang daerah dan tentunya budaya yang berbeda. Mulai dari orang Medan, Padang, Lampung, Pontianak, Bali, NTT, Jakarta, dan lainnya aku temui di masa kuliahku. Bertemu teman-teman yang bernasib sama cukup membantuku mengatasi penyakit umum perantau: homesick (kangen kampung halaman). Minoritas yang berkumpul pasti akan menyamankan satu sama lain.
Kalimat ini aku tulis sebagai bentuk rasa syukurku karena telah bertemu dengan teman-teman dari berbagai daerah, sehingga aku bisa dengan kuat menjalani hari-hari perantauan.

Aku tidak bisa bohong bahwa lama-kelamaan aku menjadi betah di Jakarta. Bahkan di tahun keempatku ini, ‘pulang’ ke Jogja tak pernah lebih dari 2 kali dalam satu tahun meskipun aku memiliki kesempatan lebih. Empat tahun di Jakarta membuatku terbiasa dengan arus pergerakan yang cepat dan dinamis, beragam, dan makin lama semakin individualis. Membicarakan tentang gaya hidup di Jakarta selalu membuatku berpikir bahwa betapa Jakarta sangat berbeda dengan kota asalku, Yogyakarta.




Menjadi Jogja, Menjadi Indonesia


Namun, jauh dari kampung halaman tidak serta merta mengubahku menjadi pribadi yang berbeda. Aku kerap menerima komentar seperti, “Wah, sudah aku duga, pasti kamu orang Jawa” atau, “Acha sih Jawa-nya ngga bisa bohong, kalem dan lemah lembut” atau semacamnya. Ya, tanpa aku sadari, negeri penuh keramahan dan kenyamanan bernama Jogja adalah salah satu faktor utama yang membentuk pribadiku saat ini. Bahkan hal ini semakin terlihat ketika aku bertemu dengan berbagai macam pribadi lain yang berbeda. Meskipun demikian, perbedaan ini yang membuat Indonesia istimewa. Tak hanya Yogyakarta yang istimewa, kan?

Aku selalu bersemangat ketika menerima pertanyaan, “Kamu orang mana?” karena aku akan menjawab dengan tanpa ragu bahwa aku orang Jogja. Kemudian, seringnya aku akan melakukan percakapan yang berkaitan dengan Malioboro, Kraton, dan Borobudur. Di akhir percakapan itu aku akan mengklarifikasi bahwa Borobudur tidak berada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, tetapi di Jawa Tengah.

Gaya hidup orang Jogja yang pada umumnya sederhana masih sangat terbawa padaku. Bukan semata harta, atau kedudukan, melainkan rasa tenteram dalam hati lah yang esensial untuk diperjuangkan. Selain itu, rasanya semua orang akan setuju bahwa warga Jogja terkenal akan keramahannya. Guyub rukun agawe santosa, begitu bunyi sebuah pepatah Jawa yang artinya kedamaian dan kerukunan lah yang membawa sentosa (kesejahteraan). Hal itu cukup terpatri di dalam caraku memaknai hidup, dan nyatanya sangat membantuku dalam bergaul dan menjalani berbagai kegiatan bersama banyak orang.

Kadang aku kesal ketika ada orang yang ‘mengaku’ orang Jogja asli, padahal yang Ia maksud adalah orang tuanya berasal dari Jogja. Namun di sisi lain hal itu menunjukkan bahwa kota asalku ini begitu dicintai dan dibanggakan banyak orang, seperti cinta dan banggaku terhadap kota ini juga. Jogja juga tidak pernah lepas dari perhatian nasional. Bagaimana tidak? Presiden kita saat ini saja pernah mengampu pendidikan di salah satu universitas di Yogyakarta. Bahkan mantan presiden Amerika Serikat, Barack Obama, menjadikan Yogyakarta salah satu destinasi saat berlibur di Indonesia pada Juni lalu.

Jogja memang bukan kota yang sempurna. Namun, di balik ketidaksempurnaannya, memori di kota ini selalu terekam sempurna di hati setiap orang yang telah menjadi bagian darinya. Satu hal yang ingin aku sampaikan melalui tulisan ini...
Aku menjadi Indonesia dengan menjadi Jogja.
Aku melangkah pergi dan menemui banyak hal baru di perantauan—yang meski tidak begitu jauh—tanpa meninggalkan identitasku sebagai Wong Jogja. Menjadi diri sendiri adalah pilihan yang bijak. Tidak perlu memaksakan diri harus menyamai standar orang lain bila hal itu tidak menyamankanmu. Tidak perlu menjadi seragam agar selamat. Justru, di balik keunikan yang kita miliki, terdapat banyak hal yang bisa dipelajari orang lain. Menjadi Jogja Menjadi Indonesia. Begitu pun ketika melangkah lebih jauh lagi. Saat kita pergi menjelajah benua lain, jangan pernah lupa kita adalah orang Indonesia.



2 comments: