May 17, 2017

Kontribusi Kecil Lawan Proxy War


Proxy = Wakil
War = Perang

Proxy War, adalah perang implisit dimana pihak-pihaknya menggunakan pihak ketiga sebagai representasi/wakil atau 'boneka'. Gampangnya gitu. Kenapa pakai perwakilan? Ada yang bilang, karena perang angkat senjata butuh fulus yang sangat besar. Lalu kenapa aku nulis ini?



Tanggal 14 Mei 2017 lalu, aku ikut pelatihan beasiswa Bidik Misi UI angkatan 2013 yang bertempat di Markas Komando Rindam Jaya. Ada satu sesi yang mengundang Brigjen TNI Eko Margiyono sebagai pembicaranya. Di sana, Brigjen Eko membahas pentingnya kesadaran akan Proxy War dan bahayanya. Mungkin aku emang kudet banget, tapi aku baru 'ngeh' dengan terma "proxy war" saat itu, dan hal ini nyata banget terjadi.
"Melalui perang proxy, tidak dapat dikenali dengan jelas siapa kawan dan siapa lawan karena musuh mengendalikan dari jauh,"
--Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmatyo (30/4/2014)
So ngeri.

Yang sangat aku ingat dari pemaparan Brigjen Eko adalah bahwa tujuan Proxy War adalah menghancurkan suatu bangsa dengan menyerang aspek-aspek dalam masyarakat, seperti politiknya, sosialnya, budayanya, ekonominya, dan lainnya.
"Kalau perang proksi, tahu-tahu musuh sudah menguasai bangsa ini. Kalau bom atom atau nuklir ditaruh di Jakarta, Jakarta hancur, di Semarang tak hancur. Tapi, kalau perang modern, semua hancur. Itu bahaya,"
--Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu (sipayo.com)
Bener sih.

Sayang banget aku ngga berkesempatan untuk mengajukan pertanyaan saat sesi Brigjen Eko kemarin, padahal aku punya satu pertanyaan,
Gimana bentuk konkret yang bisa dilakukan generasi muda untuk turut membantu melawan proxy war?

Alhasil aku cari-cari jawaban sendiri. Dan sepertinya aku sudah merumuskan 1 jawaban.

Karena pada dasarnya aku orang yang sangat pemalas, maka aku mencari "bentuk konkret paling mudah" melawan proxy war. Dan jawabannya adalah, menurutku, dengan lebih menghargai produk dalam negeri, kita sudah ikut memperkuat pertahanan negeri sekaligus melawan proxy war.

Ternyata banyak loh produk buatan anak bangsa yang kualitasnya bersaing dengan produk-produk luar negeri yang pada nebeng di Indonesia. Memang sih, ada beberapa kategori kebutuhan yang belum bisa dipenuhi sendiri oleh anak negeri, seperti kendaraan bermotor, ponsel, laptop, dan elektronik lain. Tapi, untuk kategori-kategori lainnya Indonesia punya kok!


Untuk para cewek, Indonesia punya banyak brand yang oke oce untuk menunjang penampilan. Mulai dari yang ramah kantong sampai premium. Sebut saja PAC, Make Over, Wardah, Mustika Ratu, Purbasari, dan lain-lain cari sendiri jan males.
Untuk fashion, beuuuhhh.... banyak. Sepatu ada Amazara, Bata, Khakikakiku, Tomkins, dan masih banyak lainnya yang Indonesia punya.
Untuk baju, makin banyak lagi. Aku yakin kalian semua yang bisa baca ini, bisa juga buka Google. Kebanyakan produk yang dijual di pasar-pasar modern seperti ITC, Tanah Abang, Thamrin City, dll itu juga asli Indonesia.

Semakin banyak orang yang loyal kepada produk Indonesia, semakin besar perputaran uang di Indonesia, semakin kuat perekonomian Indonesia, semakin kuat Indonesia melawan Proxy War!

Aku bukan mau bilang kalau menggunakan produk impor adalah haram atau dosa atau melanggar hukum. Aku cuma ingin bilang, bahwa Proxy War bukan hal yang bisa disepelekan. Rasanya ngga pantas rakyat yang sudah tau tentang hal ini kemudian tidak berbuat apa-apa.

Lalu kita, rakyat yang hanya butiran debu ini, bisa apa?

Bisa gunakan produk-produk dalam negeriiii :)

No comments:

Post a Comment