December 30, 2016

Dilema Orang Kedua

Di balik jabatan w a k i l yang--sometimes--terdengar 'wah', ada pergulatan batin yang pasti dirasa.
"Ooh kamu wakil ketua? Keren dong." kaga tau ini keren beneran apa ngga
"Oiya kamu wakilnya?" dengan nada seakan-akan "lahiya? kaga pernah keliatan dah"



Bukan hanya sekali aku diberi kesempatan untuk menjadi "orang kedua" di suatu organisasi. Saat SMA dulu--well, i consider 4 years ago as 'dulu'-- aku berjabat sebagai w a k i l ketua paduan suara dan w a k i l ketua teater di angkatanku. Hanya dua ekstrakurikuler yang kuikuti dan keduanya di posisi yang sama. Dan di kampus, aku jadi Sekretaris Umum di organisasi pers fakultas di post sebelumnya, which also w a k i l ketua. Pergulatan batin seorang w a k i l ketua sudah akrab lah buatku.

Jabatan w a k i l ketua, buatku pribadi, bukan hal yang main-main. Nih, kalau organisasi itu gagal, beban moralnya ngga cuma satu-dua bulan--seenggaknya untukku sih begitu. Tapi, kalau organisasi itu berhasil, rasanya hanya 1 dari 5 juta orang yang akan notice si w a k i l ini.
Let's imagine, OSIS sekolahmu berhasil menjalankan proker, sekaligus menghasilkan kader-kader yang oke. Alumni-alumni akan bertanya, "Wih, siapa ketuanya?"
Padahal, bisa aja itu berkat kerja keras segenap pengurus lain yang mem-back up kerjaan ketua yang kurang oke. Well, bisa aja.

Itu satu contoh kecil saja.
Anyways, aku senang sempat berada di jajaran utama. Pengalaman berorganisasi memang penting untuk semua orang. Dan dengan berada di jajaran utama, aku belajar untuk tidak hanya menjalankan peran yang kudapat, tetapi juga memikirkan bagaimana organisasi ini berlanjut pada tahun-tahun berikutnya.

Jadi orang kedua itu penuh dilema. Gak percaya? Jadi orang kedua deh.

No comments:

Post a Comment