January 1, 2015

GPMB bareng Madah Bahana: Pengalaman Mahal

Pertama-tama, aku ingin memohon maaf kalau nantinya tulisan ini tidak jelas intinya, terlalu melebar, terlalu banyak bahasan, dan lainnya. Anggap saja penampung airnya telah penuh dan harus segera diluapkan.

GPMB ke-30 telah usai tanggal 28 Desember kemarin. Selesai sudah semua proses yang telah dirajut sejak bulan ketiga tahun lalu. Saat ini sudah masuk ke zona PPS (Post Penampilan/Perform Syndrome). Yah anggap saja masa-masa belum move on dari paket Nusantara yang kami, Madah Bahana, bawakan di GPMB. Rasanya masih mengganjal untuk menerima bahwa ini sudah selesai. Satu kegiatan yang menyita setengah hidupku--bahkan lebih--sudah selesai. What am I going to do in the very next day, then?? Itu pikiranku di hari terakhir berada di penginapan Casa Uno.

Seperti yang pernah kutulis di akun Path-ku, proyek ini bukan proyek main-main. Waktu, tenaga, keringat, air mata, bahkan kucuran darah tumpah untuk proyek ini. Banyak yang kukorbankan demi proyek ini. Banyak yang kutinggalkan demi proyek ini. Layak kah? YES, totally yes. Mungkin yang menganggap ini semua layak, ini semua pantas, ya hanya mereka yang melalui prosesnya. Hanya mereka yang merasakan langsung yang tahu apa yang telah didapat. Madah Bahana mendapat peringkat 5 Divisi Utama di GPMB lalu. Ya, memang tidak sesuai dengan target awal kami. Tapi inilah yang menjadi pecutan bagi kami untuk bisa terus memperbaiki diri, untuk tidak puas dengan pencapaian kami sekarang, untuk sadar bahwa jalan kami masih panjang ke depan. Masih banyak yang dapat kami raih di depan.

Terlepas dari peringkat, piala, piagam yang ada, banyak hal lain yang kami dapatkan. Banyak hal yang menjadi anugerah bagi kami. Banyak hal yang patut kami syukuri.

Teman, keluarga, guru baru. Lewat proyek ini, aku punya ratusan teman baru dari semua fakultas di UI. Literally, semua fakultas bahkan dari berbagai angkatan. Dan ratusan teman baru itu sudah terasa seperti keluarga. Gimana nggak? Dalam seminggu, aku bertemu mereka minimal 3 kali, seringnya hingga 4 sampai 5 kali. Kami merasakan susah bersama, senang bersama, segalanya bersama dalam satu komando dan satu tujuan yang sama. Di proyek ini pula aku bertemu orang-orang hebat yang jadi panutanku, jadi guruku, yang selalu mau membagi ilmunya padaku. Nikmat Allah mana yang kudustakan?

Pengalaman mahal. Super mahal. Kalau aku diminta menukar seluruh pengalaman dalam proyek ini dengan ratusan juta atau milyaran sekalipun, rasanya aku akan pikir-pikir dulu. Tak banyak orang pernah merasakan latihan 25 jam perminggu. Tak banyak orang pernah mengecat rumput dan tanah lapangan hoki. Tak banyak orang pernah belajar memainkan bendera, sabre, rifle, bahkan sarung. Tak banyak orang pernah menginjak lantai kuning Istora. Dan banyak hal-hal aneh, sedih, senang, bangga, gusar, puas lainnya.

Karena sudah cukup panjang, di paragraf terakhir ini aku ingin memanjatkan rasa syukur sebesar-besarnya kepada Allah SWT. Kesempatan yang Ia ridhoi untuk diberikan kepadaku benar-benar super. Awalnya ditunjuk sebagai salah satu section leader di color guard. Da aku mah apa, butiran debu, tapi diberi kesempatan sebagai SL. Lalu Kak Dedi menjadikanku salah satu pemegang weapon (sabre dan rifle), hmm benar-benar mulai dari nol. Di TC akhir tahun aku jadi BuLu. Walaupun tanggung jawabnya mungkin tak seberapa, tapi aku merasa tersanjung telah ditunjuk. Terima kasih.


twitter @madahbahana

twitter @madahbahana



And the last, I'm gonna say,
sampai jumpa di proyek berikutnya.

No comments:

Post a Comment